The Veil
Bacaan terkait sebelumnya . . .
Pemecahan Roti sebagai Lambang Robeknya Tirai Mahakudus
Hubungan ini memang memperkuat konsep Mishkan Basar secara signifikan dan membuka pemahaman yang lebih dalam tentang makna anamnese dalam Perjamuan Terakhir.
---
I. Tirai Mahakudus dalam Tradisi Mishkan
1.1 Struktur dan Makna Tirai
Dalam tabernakel (Keluaran 26:31-33), terdapat tirai penutup (פָּרֹכֶת - parokhet) yang memisahkan:
Ruang - Isi - Akses
Tempat Kudus (HaKodesh)
- Meja roti sajian, kandil, mezbah dupa
- Imam biasa, setiap hari
Tempat Mahakudus (Kodesh HaKodashim)
- Tabut Perjanjian, tutup pendamaian (kapporet), kemuliaan Shekhinah
- Imam Besar, setahun sekali (Yom Kippur)
Tirai ini melambangkan pemisahan antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa. Bahkan dalam tradisi Yahudi, ada keyakinan bahwa tirai adalah "wajah" atau "permukaan" yang menyembunyikan kemuliaan Allah yang tak terlihat. Siapa pun yang melihat langsung ke dalam Kodesh HaKodashim tanpa pengudusan akan mati (Imamat 16:2).
1.2 Tirai sebagai "Daging" (Basar) dalam Teologi Ibrani
Penulis Ibrani (10:19-20) membuat koneksi yang eksplisit dan revolusioner:
"Saudara-saudara, kita mempunyai keberanian untuk masuk ke tempat kudus oleh darah Yesus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tirai, yaitu tubuh-Nya."
Kata Yunani yang digunakan adalah διὰ τοῦ καταπετάσματος, τοῦτʼ ἔστιν τῆς σαρκὸς αὐτοῦ ("melalui tirai, yaitu daging-Nya"). Di sini:
· Katapetasma (tirai) = terjemahan LXX untuk parokhet
· Sarx (daging) = basar dalam bahasa Ibrani
Penulis Ibrani secara sadar menyamakan daging Yesus dengan tirai Mahakudus!
---
II. Pemecahan Roti sebagai Lambang Robeknya Tirai
2.1 Tindakan Memecah Roti dalam Perjamuan Terakhir
Dalam Perjamuan Terakhir (Matius 26:26; Markus 14:22; Lukas 22:19), urutan tindakan Yesus:
1. Mengambil roti (λαβών)
2. Mengucap berkat (εὐλογήσας)
3. Memecah-mecahkannya (ἔκλασεν)
4. Memberikannya kepada murid-murid (δούς)
5. Berkata: "Inilah tubuh-Ku" (τοῦτό ἐστιν τὸ σῶμά μου)
Perhatikan: Yesus tidak mengatakan "Ini melambangkan tubuh-Ku" atau "Ini mengingatkan kepada tubuh-Ku." Ia mengatakan τοῦτό ἐστιν ("ini adalah").
Tindakan memecah roti (ἔκλασεν) dalam konteks Mishkan Basar memiliki makna ganda:
Lapisan Makna Dasar Alkitab
Harfiah Roti Paskah dipecah untuk dibagi Tradisi Seder Paskah
Kurban Tubuh Yesus akan "dipecahkan" di kayu salib Yohanes 19:31-36 (tulang-Nya tidak dipatahkan, tetapi tubuh-Nya dipecahkan/diserahkan)
Mishkan Tirai yang robek - akses ke hadirat Allah terbuka Matius 27:51; Markus 15:38
Hubungan logisnya: Sama seperti tirai Mahakudus harus robek/terbelah untuk membuka akses ke hadirat Allah, demikian pula tubuh (basar) Yesus harus dipecahkan/diserahkan untuk membuka jalan masuk ke dalam tempat maha kudus surgawi.
2.2 Mengapa Tirai dan Bukan Bagian Lain dari Mishkan?
Pertanyaan penting: Mengapa Yesus menyamakan diri-Nya dengan tirai dan bukan dengan tabut atau mezbah?
Jawabannya: Karena tirai adalah satu-satunya penghalang antara manusia dan kemuliaan Allah yang hadir di atas tutup pendamaian (kapporet).
Dalam Mishkan Basar:
Elemen Yang Diwakili Yesus Bukti
Mezbah kurban Salib Ibrani 13:10
Imam Besar Yesus sebagai mediator Ibrani 4:14-15
Darah kurban Darah Yesus Matius 26:28
Tirai Tubuh/daging Yesus Ibrani 10:20
Tabut + Kapporet Takhta Allah (Bapa) - bukan Yesus -
Dengan demikian, Yesus bukan pintu masuk (itu peran Roh Kudus), bukan juga ruang Mahakudus itu sendiri (itu Bapa), melainkan tirai yang terbuka yang memungkinkan manusia masuk.
Konsekuensi teologis: Tidak ada akses ke hadirat Allah tanpa melewati Yesus sebagai tirai yang terbelah (bandingkan Yohanes 14:6 - "tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku").
---
III. Yesus sebagai "Wajah" dari Yang Mahakudus
3.1 Konsep "Wajah" (פָּנִים - Panim) dalam Mishkan
Dalam teologi tabernakel, terdapat konsep "melihat wajah Allah" (lirot et penei YHWH - Mazmur 42:3; 84:8). Namun, karena Allah adalah Roh (Yohanes 4:24) dan tidak berwujud, maka yang "dilihat" sebenarnya adalah kemuliaan (kavod) dan kehadiran (shekhinah) yang tampak di atas tutup pendamaian.
Tirai menutupi kemuliaan ini. Dengan kata lain, tirai adalah "wajah" dari yang Mahakudus dalam arti: ia adalah permukaan yang terlihat dari realitas yang tak terlihat di baliknya.
Ketika Yesus berkata, "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9), ini paralel dengan konsep tirai:
· Sama seperti tirai adalah manifestasi lahiriah dari kemuliaan yang tersembunyi di baliknya
· Demikian pula Yesus dalam basar (daging) adalah manifestasi lahiriah dari Bapa yang tak terlihat (Kolose 1:15 - "gambar Allah yang tak kelihatan")
3.2 Pemecahan Roti sebagai "Pembukaan Wajah"
Dalam pemikiran Ibrani, tindakan memecahkan/membuka sesuatu yang tertutup sering dikaitkan dengan wahyu. Contoh:
· Pembukaan gulungan kitab → wahyu firman Allah (Yehezkiel 2:9-10; Wahyu 5)
· Pembukaan tabir langit → wahyu kemuliaan Allah (Yehezkiel 1:1; Markus 1:10)
· Pembukaan mata → wahyu pengertian (Mazmur 119:18; Lukas 24:31)
Demikian pula, pemecahan roti (yang melambangkan robeknya tirai/daging Yesus) adalah tindakan wahyu par excellence:
"Ketika Ia duduk makan bersama mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka. Pada saat itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia." (Lukas 24:30-31)
Perhatikan: Dalam peristiwa Emaus, pemecahan roti secara langsung menyebabkan mata terbuka untuk mengenal Yesus. Ini karena pemecahan roti adalah sakramen dari robeknya tirai, yang memungkinkan manusia "melihat" kemuliaan Allah yang sebelumnya tersembunyi.
---
IV. Implikasi Teologis bagi Rumusan Anamnese
4.1 Anamnese sebagai "Memasuki Tempat Mahakudus melalui Tirai yang Robek"
Dengan pemahaman ini, rumusan anamnese Perjamuan dapat direkonstruksi sebagai berikut:
Fase Anamnese Makna Mishkan Aksi Gereja
Mengambil roti Mempersiapkan diri mendekat ke tirai Menghadirkan diri ke hadirat Allah
Memecah roti Mengalami robeknya tirai/daging Yesus Mengakui bahwa hanya melalui kematian Yesus akses terbuka
Memberikan roti Tirai terbuka bagi semua, bukan hanya imam besar Partisipasi komunal dalam realitas Mishkan Basar
Makan roti Memasuki Kodesh HaKodashim secara rohani Persekutuan dengan Shekhinah
Setiap kali gereja memecahkan roti dalam Perjamuan, secara anamenik kita melambangkan dan sekaligus berpartisipasi dalam robeknya tirai Mahakudus. Itulah sebabnya Perjamuan bukan sekadar peringatan, melainkan akses liturgis ke takhta kasih karunia (Ibrani 4:16).
4.2 "Yesus Memecahkan Roti" vs "Tirai Robek dengan Sendirinya"
Keterangan penting: Dalam kematian Yesus, Matius 27:51 menyatakan bahwa tirai Bait Suci robek dengan sendirinya (ἐσχίσθη - bentuk pasif, menyiratkan tindakan Allah). Sementara dalam Perjamuan, Yesus sendirilah yang memecahkan roti.
Paradoks ini justru memperkuat teologi Mishkan Basar:
· Robeknya tirai Bait Suci → inisiatif Allah Bapa (pembuka akses dari sisi Ilahi)
· Pemecahan roti oleh Yesus → inisiatif Putra yang menyerahkan tubuh-Nya secara sukarela (Yohanes 10:18 - "Aku memberikan nyawa-Ku menurut kehendak-Ku sendiri")
Keduanya menggambarkan realitas yang sama dari sudut yang berbeda: Mishkan Basar tidak dirobek secara paksa, melainkan dipersembahkan secara sukarela oleh Yesus sendiri, namun juga dirobek oleh kehendak Bapa (Yesaya 53:10 - "TUHAN berkehendak meremukkan dia").
---
V. Perbandingan dengan Teologi Tradisional (Physis-Yunani)
Aspek Kerangka Physis-Yunani (Kalsedon) Kerangka Mishkan Basar (Artikel)
Tubuh Yesus "Natur manusia" yang dipersonakan dalam Pribadi Kedua Tirai yang memisahkan/ membuka akses ke hadirat Allah
Kematian Yesus "Natur manusia" menderita, "natur ilahi" tidak Tirai yang robek - daging yang fana dipecahkan, Shekhinah yang mendiami tidak ikut robek
Pemecahan roti dalam Perjamuan Lambang pemisahan jiwa dari tubuh (kematian) Lambang robeknya tirai - akses ke Mahakudus terbuka
Anamnese Mengenangkan kematian sebagai kurban Memasuki tempat Mahakudus melalui tirai yang telah terbuka
Kehadiran Kristus dalam Perjamuan Transubstansiasi/ konsubstansiasi (problem physis) Shekhinah sakramental - Allah hadir tanpa menjadi roti (sama seperti hadir di tabernakel tanpa menjadi kemah)
Model Mishkan Basar lebih koheren karena:
1. Tidak perlu menjelaskan bagaimana "natur ilahi" bisa hadir dalam roti (problem Kalsedon)
2. Menghormati transendensi Allah - Shekhinah hadir tetapi tidak bercampur dengan basar
3. Setia pada metafora Yohanes 1:14 - eskēnōsen (berkemah) dan Ibrani 10:20 - tirai = daging
4. Memberi makna liturgis yang kuat - setiap pemecahan roti adalah anamnesis dari robeknya tirai
---
VI. Kesimpulan dan Sintesis
Tesis Anda bahwa "pemecahan roti adalah lambang robeknya tirai Mahakudus" tidak hanya benar secara alkitabiah, tetapi juga:
1. Memperkuat konsep Mishkan Basar dengan menunjukkan bahwa daging Yesus secara fungsional setara dengan tirai tabernakel.
2. Menjelaskan mengapa Yesus sendirilah yang memecahkan roti - karena Ia adalah tirai yang secara sukarela membuka diri-Nya untuk dirobek.
3. Memberi dasar bagi anamnese Perjamuan sebagai akses liturgis ke hadirat Allah - bukan sekadar mengingat masa lalu, tetapi memasuki realitas yang sama yang dihadapi imam besar setahun sekali.
4. Menyatukan kristologi, sakramentologi, dan liturgi dalam kerangka Ibrani yang koheren, tanpa perlu kerangka physis Yunani yang problematis.
Dengan demikian, rumusan anamnese Perjamuan dapat direkonstruksi secara lebih alkitabiah:
"Lakukanlah ini sebagai anamnese akan Aku — yaitu, setiap kali kamu memecahkan roti, kamu melambangkan dan berpartisipasi dalam robeknya tirai, yaitu tubuh-Ku, sehingga kamu dapat masuk dengan berani ke dalam hadirat Allah yang Mahakudus, di mana Aku sendiri telah masuk sebagai Imam Besar, membawa darah perjanjian untuk pengampunan dosamu."
Atau dalam bahasa Ibrani yang lebih padat:
זִכְרוּ אֹתִי בְּזֹאת כִּי פָרֹכֶת בְּשָׂרִי נִקְרַע לָכֶם
Zikhru oti b'zot ki farokhet besari nikra lakhem
"Ingatlah Aku dalam hal ini: karena tirai daging-Ku telah dirobek bagimu."
---
Akhirnya, pemahaman ini mengundang gereja untuk merayakan Perjamuan bukan dengan kesedihan mawkish atas kematian Yesus, melainkan dengan kegembiraan karena akses ke Mahakudus telah dibuka — sebuah anamnese yang penuh syukur, sama seperti seorang anak yang masuk ke ruang hadirat Bapa setelah pintu yang selama ini tertutup akhirnya terbuka.
Shaloom Tuhan Yesus, melindungi dan memberkati kita semua. Amin.🙏
Klik atau Tap untuk lihat Artikel terkait :
Klik atau Tap disini untuk baca Artikel Lainnya
Komentar
Posting Komentar